Topografi

Kabupaten Kerinci merupakan kabupaten paling Barat Provinsi Jambi yang dikenal dengan julukan “Sekepal Tanah Surga yang Tercampak ke Bumi”, memiliki pemandangan alam yang indah, tanah yang subur, adat budayanya yang kuat, serta masyarakatnya yang ramah dan bersahabat. Ibarat hamparan permadani sutra yang tak ternilai harganya. Mereka yang pernah ke Kabupaten Kerinci pasti akan berharap bisa kembali lagi kesana.

Kabupaten Kerinci merupakan dataran tinggi yang berada di antara 500 mdpl s/d 1.600 mdpl dan memiliki topografi berbukit dan bergelombang. Curah hujan di Kabupaten Kerinci  berkisar antara 800-3.000 mm/thn, suhu udara rata-rata 16-20°C.

Kabupaten Kerinci merupakan Kabupaten terkecil ketiga di antara Kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jambi dengan luas wilayah 380.000 Ha (seluas 7,20% dari total luas Provinsi Jambi). Sementara sejumlah 191.406 Ha (50,37%) merupakan wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat. Hanya sekitar 188.594 Ha (49,63%) yang menjadi kawasan hunian, hutan konservasi dan lahan pertanian serta perkebunan.

Provinsi Jambi

Kabupaten Kerinci

Karakteristik Kopi Arabika Koerinci

Perkebunan kopi Arabika Koerinci tersebar di kecamatan Kayu Aro, kecamatan Gunung Tujuh, desa Batu Hampar (kecamatan Kayu Aro Barat), kecamatan Gunung Raya, kecamatan Batang Merangin serta Sungai Penuh. Wilayah paling subur ada di kecamatan Kayu Aro yang berada di kaki Gunung Kerinci yang memiliki kandungan tanah vulkanis dengan curah hujan yang tinggi.

Di kecamatan Kayu Aro para petani memanfaatkan tanah yang subur sebagai areal perkebunan kopi dengan luas kebun sekitar 400 Ha yang berada pada ketinggian 1200 mdpl sampai dengan 1600 mdpl. Perkebunan kopi ini dikelola petani yang berasal dari wilayah sekitar hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Sebagian tanaman kopi di kerinci juga diusahakan dan dikelola oleh Perusahaan Negara PTPN VI yang mempunyai kebun cukup luas dan cukup baik serta diusahakan dengan system yang lebih maju. Kopi arabika yang ditanam antara lain varietas Andung Sari, Sigarar Utang dan P-88.

Tanaman kopi Arabika memiliki tinggi pohon berkisar 2 sampai 3 meter. Batang pohon berdiri tegak dengan memiliki banyak cabang yang melingkari batang. Warna daun kopi Arabika yang masih muda berwarna hijau cerah mengkilap seperti dipernis. Sedangkan daun yang sudah tua berwarna hijau gelap. Biasanya kopi jenis ini mulai berbunga setelah musim hujan, dengan dihiasi bunganya yang berwarnna putih.

Usia kopi dari mulai kuncup bunga sampai ia menjadi buah kopi, memerlukan waktu 8 sampai dengan 11 bulan. Tanaman kopi Arabika mulai berbuah pada umur 3-4 tahun tanam. Namun untuk buah yang pertama, biasanya tidak terlalu lebat. Ia akan berbuah maksimal pada umur 5 tahun ke atas dalam kurun waktu 6-8 bulan.

Para petani kopi di Kerinci umumnya mengolah kopi Arabika dengan teknik proses basah dan kering. Untuk kopi Arabika Kerinci sendiri, dilakukan dengan cara proses pengolahan basah.

Proses pengolahan Basah

Proses pengolahan basah (Wet Hulling) adalah metode kopi hibrida yang digunakan di banyak wilayah di Indonesia terutama Sumatera.

Pengolahan kopi Arabika Kerinci menggunakan metode giling basah (Wet Hulling) yang melibatkan dua kali proses pengeringan.

Setelah buah kopi dipetik, kulit terluar kopi dikupas dengan menggunakan mesin pulping lalu difermentasi selama kurang lebih 1 malam,kemudian dicuci dan dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari sehingga kelembaban kopi mencapai 35 % – 40 %.

Pengeringan dilakukan di hamparan sinar matahari dengan tujuan untuk memisahkan kulit tanduk dan kulit ari dari kopi.

Pada proses pengeringan terakhir setelah gabah di hulling, kopi dikeringkan dengan menjemurkan di sinar matahari kembali. Sehingga kelembaban terakhir dari kopi mencapai 12-14 %

Biji kopi inilah yang disebut green bean yang siap disortir, di grading dan siap di eksport. Kopi yang dihasilkan kopi gelap berwarna hijau opal dengan kulit silversik yang melekat pada kopi.

 

Area Geografis : Kabupaten Kerinci di kecamatan Kayu Aro, kecamatan Gunung Tujuh, desa Batu Hampar (kecamatan Kayu Aro Barat), kecamatan Gunung Raya, kecamatan Batang Merangin serta Sungai Penuh.
Ketinggian : 1200 mdpl – 1600 mdpl, andosol, tanah vulkanik yang subur, iklim basah.
Jenis Pengolahan : kebanyakan prosesnya adalah giling basah (wet hulling) yang umumnya dimiliki oleh petani kecil. Namun segian kecil ada yang diolah basah (fully washed) dan giling kering (dry hulling)
Sistem Penanaman : Sebagian besar sistem penanaman organik.
Masa Panen : April – Juli dan Oktober – Januari
Cupping Notes : Tropical Fruit Aromas, Red tea, Full body, Citric and nutty notes.
Produktivitas : Secara umum produksi kopi Koerinci masih belum begitu banyak, hanya maksimum 500 ton biji kopi (green bean) pertahun yang dijual local dan di ekspor ke luar negri.