Sejarah

Dahulu wilayah Solok (termasuk kota Solok dan kabupaten Solok Selatan) merupakan wilayah rantau dari Luhak Tanah Datar, yang kemudian terkenal sebagai Luhak Kubuang Tigo Baleh. Disamping itu wilayah Solok juga merupakan daerah yang dilewati oleh nenek moyang Alam Surambi Sungai Pagu yang berasal dari Tanah Datar yang disebut juga sebagai nenek kurang aso enam puluh (artinya enam puluh orang leluhur alam surambi Sungai Pagu). Perpindahan ini diperkirakan terjadi pada abad 13 sampai 14 Masehi.

Pada tahun 1970, ibukota Kabupaten Solok berkembang dan ditetapkan menjadi sebuah kotamadya dengan nama Kota Solok. Berubah statusnya dari ibukota Kabupaten Solok menjadi sebuah wilayah pemerintahan baru. Pada tahun 1979 Kabupaten Solok baru melakukan pemindahan pusat pelayanan pemerintahan dari Kota Solok ke Koto Baru, Kecamatan Kubung, namun secara yuridis Ibukota Kabupaten Solok masih tetap Solok.

Pemekaran wilayah Kabupaten Solok pada akhir tahun 2003 telah melahirkan satu kabupaten baru yaitu Kabupaten Solok Selatan. Dengan tejadinya pemekaran ini berarti luas wilayah Kabupaten Solok mengalami pengurangan secara signifikan dari semula 708.402 Ha (7.084.02 km²) menjadi 373.800 Ha (3.738.00 km²).

 Topografi

Topografi Kabupaten Solok sangat bervariasi antara dataran, lembah dan berbukit-bukit, dengan ketinggian antara 300 mdpl – 1900 mdpl serta curah hujan rata-rata 184,31 mm kubik per tahun. Suhu udara berkisar dari 26,1 °C sampai 28,9 °C.

Terdapat tiga anak sungai yang melintasi Kota Solok, yaitu Sungai Batang Lembang, Sungai Batang Gawan dan Sungai Batang Air Binguang. Disamping punya banyak sungai juga memiliki banyak danau yang terkenal dengan pesona keindahan alamnya. Di antara danau-danau tersebut, yang terluas adalah Danau Singkarak, diikuti oleh Danau Kembar (Danau Di atas dan Danau Di bawah), serta Danau Talang. Disamping itu Kabupaten Solok juga memiliki satu gunung berapi, yaitu Gunung Talang.

Dilihat dari jenis tanah, 21,76% tanah di Kota Solok merupakan tanah sawah dan sisanya 78,24% berupa tanah kering. Dilihat dari letaknya, posisi Kabupaten Solok sangat strategis karena disamping dilewati jalur Jalan Lintas Sumatera, daerahnya juga berbatasan langsung dengan Kota Padang selaku ibukota Provinsi Sumatera Barat.

Peta Sumatera Barat

Karakteristik

Kondisi iklim tumbuh yang berada di ketinggian tanam lebih dari 1.500 mdpl ikut memberikan influence terhadap karakter rasa yang akan membawa pengalaman sensory berupa sensasi manis-asam bebuahan citrus seperti buah lemon dan karakter rasa menyerupai rerempahan pada kopi yang dihasilkan dari Kawasan Solok.

 Proses Pengolahan Kopi Solok Minang

Proses pengolahan basah (Wet Hulling) adalah metode proses kopi yang banyak digunakan di Solok, mengikuti banyak wilayah di Indonesia terutama Sumatera.

Setelah buah kopi dipetik, kulit terluar kopi dikupas dengan menggunakan mesin pulping lalu difermentasi selama kurang lebih 1 malam sehingga dapat menghasilkan karakter rasa kopi yang lebih kental dan kuat. Kemudian dicuci dan dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari sehingga kelembaban kopi mencapai 35 % – 40 %.

Pengeringan dilakukan di hamparan sinar matahari dengan tujuan untuk memisahkan kulit tanduk dan kulit ari dari kopi. Pada proses pengeringan terakhir setelah gabah di hulling, kopi dikeringkan dengan menjemurkan di sinar matahari kembali. Sehingga kelembaban terakhir dari kopi mencapai 12-14 %.

Biji kopi inilah yang disebut green bean yang siap disortir, di grading dan siap di eksport. Kopi yang dihasilkan kopi gelap berwarna hijau opal dengan kulit silversik yang melekat pada kopi.

 

Area Geografis : Dataran tinggi kabupaten Solok, Sumatera Barat yang dekat dengan lereng gunung Talang, gunung Merapi dan gunung-gunung kecil lainnya.
Ketinggian : 1000 mdpl – 1600 mdpl, andosol, tanah vulkanik yang subur, iklim basah.
Jenis Pengolahan : giling basah, giling kering, (masih sedikit) washed, honey dan natural.
Sistem Penanaman : Sebagian besar sistem penanaman organik.
Masa Panen : Maret – Mei dan Oktober – Desember.
Cupping Notes : Lemony Caramel, Herbal, Medium Body, Sweetness, Spicy.
Produktivitas : ± 60 ton per tahun per hektar
varietas : Kartika, S-Lini, Sigagarutang, Andungsari