Banyak pandangan, pendapat dan sebutan tentang kopi asal Jawa Barat. Secara umum orang mengenal dan menyebutnya kopi Java Preanger, memang tidak salah, karena sejak zaman Belanda kopi asal Jawa Barat sangat dikenal dengan sebutan “Java” dan karena pertama kali kopi ditanam di daerah Priangan maka julukan yang dikenal masyarakat luas adalah “Java Preanger”. Sejak itu kopi asal Jawa Barat selalu disebut Kopi Java Preanger, baik kopi jenis Arabika maupun kopi jenis Robusta, hingga kini sebutan tersebut masih sangat melekat di masyarakat, setiap kopi yang dibudidayakan di Jawa Barat masih disebut kopi Java Preanger.

Kopi Java Preanger saat ini banyak ditanam oleh masyarakat Garut, Pengalengan, Ciwidey, Lembang, dan daerah lain di Jawa Barat bagian selatan yang tersebar di beberapa Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Kopi ini sangat cocok tumbuh di wilayah pegunungan dengan ketinggian mulai 900 meter dari permukaan laut (dpl).  Dengan meningkatnya prospek perkopian internasional saat ini, Pemerintah Provinsi Jabar dan Pemkab yang ada di Jabar mencoba untuk mengangkat kembali kopi Java Preanger yang telah cukup dikenal pada masa jayanya dahulu.

Karakteristik Kopi Arabika Java Preanger

Dari berbagai karakter kopi Jawa Barat hanya tiga karakteristik kopi yang dirujuk dengan indikasi geografis “Kopi Arabika Java Preanger” yaitu :

  1. Berasal dari tanaman kopi jenis Arabika yang ditanam di dataran tinggi Priangan di Provinsi Jawa Barat, yaitu wilayah-wilayah yang memiliki agroklimat yang cocok untuk budidaya kopi jenis Arabika. Ditanam pada wilayah dataran tinggi dengan ketinggian tempat minimal 900 meter dari permukaan laut (dpl), yang memiliki udara yang dingin dan kering, serta curah hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun dan bulan basah antara 6-7 bulan setiap tahunnya.
  2. Berasal dari tanaman kopi Arabika yang terbentuk dari varietas-varietas terseleksi dan unggul, yang ditanam di bawah pohon naungan dan dibudidayakan dengan pada prinsip-prinsip ekologis yang memperhatikan kelestarian lingkungan, serta dipupuk terutama dengan menggunakan pupuk organik dengan konsep pertanian Input Luar Rendah atau Low Ekternal-Input and Sustainable Agriculture (LEISA).
  3. Varietas kopi Arabika yang dibudidayakan adalah kopi arabika varietas Typica, S-795 (S-Lini), Sigararutang, Kartika, Catimor dan Andung Sari.

Batasan mengenai Kopi Arabika Java Preanger dalam buku persyaratan Indikasi Geografis (IG)

Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) adalah kopi dari jenis Arabika yang diproduksi oleh petani di wilayah Priangan dan ditanam di dataran tinggi Priangan pada ketinggian minimal 900 meter dari permukaan laut (dpl).

Untuk perlindungan indikasi geografis, dalam sertifikat cita rasa KAJP dibedakan ke dalam 2 (dua) varian yaitu :

  1. Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) Bandoeng Highland

Yang termasuk ke dalam KAJP Bandoeng Highland, merupakan kopi yang ditanam di wilayah: Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Malabar, Gunung Caringin, Gunung Tilu, Gunung Patuha, Gunung Halu dan Gunung Beser.

  1. Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) Soenda Mountain

Yang termasuk ke dalam KAJP Soenda Mountain, merupakan kopi yang ditanam di wilayah: Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang.

KAJP memiliki kualitas rasa yang unik yang ditandai dengan komponen: Uniformity, Clean Cup, Sweetness, Lemony Flavor, Acidity, dan Balance after taste.

Aspek lain yang perlu mendapat perhatian, mengenai ragam produk yang dihasilkan. Sesuai apa yang tertuang dalam buku persyaratan Indikasi Geografis (IG), produk Kopi Arabika Java Preanger terdiri dari : Kopi biji (green bean atau coffee bean), Kopi sangrai (roasted bean atau roasted coffee), dan Kopi bubuk (ground coffee).

Kopi Arabika Java Preanger tersebut diproduksi menurut Standar Operasional Prosedur (SOP) tertentu yang telah disepakati dan ditetapkan oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Java Preanger.  Untuk tetap menjaga mutu dan kualitas yang telah distandarkan maka cara pengolahan KAJP harus memenuhi cara penanganan dan pengolahan yang telah dipatenkan di dalam buku MPIG, yaitu:

Buah kopi yang sudah matang/merah dipanen secara manual, dipetik satu per satu dengan menggunakan tangan dan dipilih dengan cara seksama sehingga persentase gelondong merahnya minimal 95%. Lalu buah kopi diolah melalui proses perambangan, pengupasan kulit merah dan pemeraman menjadi biji kopi basah berkulit tanduk. Biji kopi diolah dangan cara Olah Basah Giling Kering (OBGK) atau Olah Basah Giling Basah (OBGB).

Nama Kopi Arabika Java Preanger hanya bisa digunakan untuk kopi asli/ murni bahan baku bersumber dari KAJP artinya  harus memiliki komposisi 100 % Kopi Arabika Java Preanger. Campuran kopi tidak bisa dijual dengan menggunakan nama KAJP.

Kopi Java Preanger memiliki beberapa keunggulan aroma yang  kuat, cita rasa khas (unik). Aroma yang jelas tercium adalah aroma Blueberry, Floral, Jasmine, sweet aftertaste, vanilla, lychee. Apricot, Caramel,  sweet finish, full body. Fruity, Lime Acidity, Maple Syrup,  Slightly Floral, Clean Finish Nutty, Ripe Cherry, Slightly Floral, Toffee, Dark Chocolate. Apple, Vanilla note, Roasted Peanut, Sweet Melow, Honey.

Provinsi Jawa Barat

Kabupaten Garut

 

Area Geografis : Ditanam pada wilayah dataran tinggi dengan ketinggian tempat minimal 900 meter dari permukaan laut (dpl), Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Malabar, Gunung Caringin, Gunung Tilu, Gunung Patuha, Gunung Halu, Gunung Beser, Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang
Ketinggian : 900-1600 mdpl.
Jenis Pengolahan : Natural, Honey, Fullwashed Dryhulling, Wethulling.
Sistem Penanaman : Umumnya di tanami oleh petani perorangan diarea kebun Perhutani yang sudah ada pohon pelindungnya.
Masa Panen : Mei – Agustus
Cupping Notes : Chocolate, Caramel, Nutty, Peach, Berry, Sweet, Floral, Lemony, Balance after taste
Produktivitas : 300 – 5000 Ton biji hijau (Green Bean) pertahun.
varietas : Typica, S-795 (S-Lini), Sigararutang, Kartika, Catimor dan Andung Sari, serta sedikit yellow Catura di wilayah Garut.