“Tiada hari tanpa ngopi”, mungkin itu jadi jargon bagi beberapa orang yang sangat cinta dengan sebuah minuman pekat berwarna hitam ini. Kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun yang dicari adalah kopi. Gimana, udah ngopi hari ini?

Bagi mereka, bila belum ngopi maka hari belum bisa dimulai rasanya. Life begins after coffee, katanya. Semakin banyak penggemar kopi yang tak hanya ada di kota-kota besar. Rasanya kedai kopi makin menjamur.

Janjian dengan teman, di kedai kopi. Ingin mengerjakan sebuah hal, pergi ke kedai kopi. Mencari inspirasi, ya di kedai kopi. Bila ada satu tempat yang sering dikunjungi selain rumah atau tempat kuliah dan bekerja, ya kedai kopi. Betul enggak?

Lalu pertanyaannya, apakah ngopi itu mahal? Bisa ya dan bisa juga tidak.

Ya, bila kamu pergi ngopi ke tempat-tempat fancy. Satu gelas kopi berkisar antara Rp 20 ribu sampai dengan Rp 50 ribu. Dalam seminggu mungkin kamu menghabiskan sekitar Rp 150 ribu yang artinya Rp 600 ribu sebulan.

Makanya, enggak aneh ya kalau bu Sri Mulyani bilang kalau anak muda itu harus ngurangin ngopi. Ya kalau ternyata ngopinya ngabisin segitu banyak sih relatif mahal. Apalagi kalau misalnya jajan atau penghasilan kamu setara UMP Jakarta saja, 15%-nya abis buat ngopi aja.

Dengan uang yang sama, sekitar Rp 150 ribu seminggu, kalau dikurangi lalu ditabung setengahnya aja maka kamu bisa ngumpulin sekitar Rp 3,6 juta dalam satu tahun. Lumayan ya?

Tapikan ngopi itu kebutuhan! Lalu kamu bilang.

Ya, bagi beberapa orang ngopi itu kebutuhan, tapi apakah itu berlaku bagi kamu juga? Jangan-jangan, yang kamu lakukan itu bukan “ngopi” secara definisi, tapi kamu ngopi hanya ngikutin gengsi?

Karena kalau kebutuhan kamu hanya ngopi, maka kamu bisa melakukannya di rumah. Beli saja biji kopinya, lalu kamu giling, dan kamu seduh di rumah. Selesai kan semua masalah? Secara budget juga lebih murah.

Harga biji kopi untuk 250 gr itu sekitar Rp 50 – Rp 130 ribu, ambil “buletnya” deh jadi Rp 100 ribu. Dan fyi, 250 gr itu bisa buat 20-an gelas kopi lho. Dengan biaya yang sama, kalau ke kedai kopi cuma dapat 4 gelas kopi, kalau seduh sendiri kamu dapat 20 gelas. Asik ya?

Jadi sebenarnya, kebutuhan kamu itu biayanya hanya sekitar Rp 5 ribu saja per gelas. Tapi kalau kamu ingin memenuhi gengsi, maka biayanya bisa jadi berkali lipatnya. Apalagi, kalau ternyata yang kamu pesan bukan minuman kopi-nya. Bisa jadi lebih dari 10 kali lipatnya.

Selain itu, harus diakui juga bahwa ada beberapa minuman seperti espresso, cappuccino, latte, macchiato, picolo yang akan cukup sulit bila dibuat sendiri di rumah. Maka, pergi ke kedai kopi bisa jadi jawabannya.

Tapi! Ini jangan jadi alasan kamu buat pergi ke kedai kopi setiap harinya. Bisa-bisa boncos nantinya. Kamu, harus bisa untuk memvariasikan jadwal kamu atau bahkan, akan lebih baik kalau bisa cari substitusinya. Bisa substitusi minumannya atau substitusi kedai kopinya.

Misalnya, kamu biasa minum iced cappucinno atau iced latte di sebuah kedai kopi internasional, harganya kan sekitar Rp 40 ribu-an. Nah, dengan rasa yang kurang lebih sama kamu cari aja “es kopi susu”, harganya variatif cuma Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu saja.

Tapi, kamu harus hati-hati juga dengan jebakan “merasa murah” sehingga kamu kebablasan belanja es kopi-nya. Normal aja, seperti kamu ngopi seperti biasanya. Kalau biasanya seminggu 3 kali jajan kopi ya pertahankan dan jangan diubah jadi sehari 3 kali.

Dan juga ingat, perubahan menu pilihan minuman ini kadang gak bisa dilakukan kalau kamu gak pindah kedai kopinya. Beberapa kedai kopi yang ada iced cappuccino menawarkan es kopi susu juga, sedangkan beberapa lainnya tidak.

So, kamu harus pandai juga memilih kedai kopinya. Minuman yang sama di kedai kopi yang berbeda bisa berbeda juga harganya. Bisa lebih murah dan juga bisa lebih mahal. Biasanya, lebih “instagramable” tempatnya, maka lebih mahal minumannya.

Lalu, gimana kalau ternyata kamu masih ingin pergi ke kedai kopi favorit juga padahal kamu tau itu mahal harganya. Nyeduh di rumah udah, milih es kopi susu dari kedai lain juga udah. Tapi, keinginan untuk hadir ke kedai kopi favorit selalu hadir di hati kamu semua.

Kalau kamu punya keinginan seperti ini, ya wajar saja. Manusiawi sih sebenarnya. Sehingga, untuk menyiasatinya, kamu sebisa mungkin melakukan hal produktif ketika ngopi di sana. Kompensasikanlah ceritanya.

Mungkin, sambil ngopi kamu bisa baca buku, bisa ngerjain makalah, atau ngerjain laporan-laporan kerja atau kuliah. Jadi, ngopi-nya tetep dapat, (banyak) hal yang harus kamu kerjakan juga bisa kamu selesaikan.

Yang sayang itu, kalau ngopi di tempat mahal tapi cuma haha hihi aja. Tapi kalau haha hihi produktif sih enggak masalah ya, kan jadi duit pada akhirnya. Kopinya mahal enggak masalah, kan dibayar sama uang hasil proyek yang kamu diskusikan sambil ngopi ya?

Nah, kalau menurut kamu, ngopi itu mahal apa enggak sih?

Sumber : kumparan.com