Cita rasa kopi Indonesia yang diakui masyarakat Inggris

0
45

London (Antaranews Bengkulu) – Para pembeli yang terdiri dari importir dan pemilik kedai kopi di London menyatakan tertarik dan ingin berbisnis dengan pengusaha dan petani kopi Indonesia yang produknya diakui mempunyai cita rasa yang berbeda dari kopi instan.

Hal itu terungkap dalam acara Indonesia Coffee Day yang digelar KBRI London bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan serta Bank Indonesia (BI) yang digelar di East Wing Somerset House, gedung neoklasikal berusia 200 tahunan di jantung kota London, kata Minister Counselor  KBRI London Thomas Siregar kepada Antara London, Minggu.

Manajer Rantai Pasokan Kopi Fairtrade di Inggris Anna Pierides menyoroti peran sertifikasi Fairtrade produksi kopi  organik yang membantu petani kopi Indonesia yang telah menghasilkan kopi premium senilai 4,8 juta dolar AS.

Sebanyak 10 pelaku industri kopi dari Indonesia, termasuk barista milenial terlibat sebagai bagian dari upaya diplomasi ekonomi Indonesia untuk meningkatkan kehadiran kopi khas Indonesia di Inggris baik dari sisi komoditas maupun sektor kreatif.

Dalam kegiatan forum bisnis Indonesia Coffee Day, Dubes Indonesia untuk Inggris Raya, Republik Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional, Rizal Sukma menyoroti betapa besar potensi transaksi perdagangan di sektor kopi antara Indonesia dan Inggris.

“Sebagai produsen kopi terbesar ke keempat, diharapkan dari pameran tunggal kopi Indonesia yang pertama di Inggris ini akan makin banyak ekspor kopi Indonesia hadir di Inggris,” ujarnya.

Hadir  dalam forum bisnis adalah pemilik dan pengusaha kopi dari Pagalaram, Gayo Mandiri, Malabar, Bali Arabica, Dialog Coffee, Kopi Sarongge, Work Coffee, Ngopi Yuk serta Petimera yang membawa ragam kopi dari Aceh, Bali, Jawa Barat, Jawa Barat, Sumatera dan Flores.

Dalam Indonesia Coffee Day seluruh jenis kopi  dipresentasikan dalam sesi coffee cupping yang dipandu Syafrudin, dari Specialty Coffee Association Indonesia.

Dubes Rizal Sukma dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa dengan terjadinya pergeseran budaya minum teh menjadi minum kopi di Inggris, Indonesia berada di posisi yang strategis untuk memasuki pasar kopi, khususnya specialty coffee. Meskipun potensi kopi Indonesia di Inggris belum optimal namun potensi kopi Indonesia cukup besar.

“Hal ini yang menjadikan promosi kopi Indonesia melalui Indonesia Coffee Day menjadi salah satu  prioritas diplomasi ekonomi KBRI London,” ujar Dubes.

Ia juga mendorong berbagai pihak untuk ikut mendorong pengembangan industri kopi Indonesia, sebagaimana yang dilakukan BI dan Bank Mandiri, yang telah bermitra dengan beberapa petani kopi Indonesia.

Sementara itu Kepala Perwakilan BI London, Donny Hutabarat mengatakan kehadian BI dalam Indonesia Coffee Day yang digelar untuk pertama kalinya adalah untuk memberikan kesempatan kepada  dua petani/perajin kopi binaan BI yang berasal dari Jawa Barat dan Bali untuk secara langsung dapat memperkenalkan produk kopinya kepada masyarakat Inggris sebagai salah satu pasar ekspor kopi terbesar di Eropa.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan dan memotivasi  pasar ekspor kopi dari petani Indonesia, ujarnya.

Komang Sukarsana dari Kintamani Coffee yang mendapat pembinaan dari BI kepada Antara mengakui dari hasil Indonesia Coffee Day ada beberapa pembeli yang  bersedia dan bahkan ada yang ingin berkunjung ke Bali.

“Acaranya luar biasa, kami sangat antusias dan bersyukur sekali petani kecil bisa hadir di acara yang keren ini, berkat dukungan yang luar biasa dari Bank Indonesia,” katanya.

Direktur Gayo Mandiri Coffee, Mohd Amin mengatakan selama ini  memang  ada beberapa importir di London yang sudah membeli kopi dari Indonesia termasuk dari kopi Gayo Aceh, namun mereka masih membelinya dari importir Eropa lainnya.

Diharapkan dengan adanya acara temu bisnis yang diadakan KBRI banyak pengusaha dan pemilik cafe di London  ingin membeli kopi secara langsung dari ekportir Indonesia. “Alhamdullilah ada beberapa buyer yang tertarik membeli kopi langsung dari kami,” ujarnya.

Menurut Mohd Amin, sejak dahulu kopi Indonesia terutama kopi Gayo dilirik pembeli dari Amerika dan Eropa sebagai bahan “blending” untuk menjadi penyedap aroma bagi kopi yang dibeli dari negara lain.

Dalam acara Indonesia Coffee Day  dihadiri sekitar 30 pengusaha dan pemilik kedai kopi di London, di antaranya importir kopi Indonesia ke Inggris pasangan Tessa dan Christian Dennis,  berencana  mengimpor kopi dari Indonesia dan telah menjalin kerja sama dengan Manager Kopi Malabar, Tiara Dwi Rahayu.

“Kami akan bekerja sama dengan keluarnya regulasi izin usaha bu Tessa,” kata Tiara Dwi Rahayu.