Indonesia Perlu Riset Mendalam Tingkatkan Kualitas Kopi

Penulis : Dian Ihsan
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

0
106

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia perlu riset lebih mendalam agar dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas kopi. Dengan begitu, kopi Indonesia bisa lebih dicintai pasar dunia.

“Riset yang dilakukan bisa memengaruhi produktivitas dan kualitas kopi berdasarkan budidaya, penanaman, pengolahan pasca panen, proses produksi, dan peralatan yang dibutuhkan,” kata Bambang dalam keterangan resminya, melansir laman ristekbrin.go.id

Penerapan TGT, ujar Bambang, sudah dilakukan di beberapa tempat, terutama di provinsi yang pendapatan daerahnya rendah, seperti provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), Nusa Tenggara Barat ( NTB), dan Bengkulu.

“Yang fokus dilakukan adalah penerapan TTG untuk proses dan alat, program ilmu pengetahuan teknologi daerah yang sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing, dan pendampingan UKM kopi,” sebut dia.

Daerah Sumba Barat Daya sukses jalankan TTG

Pria yang lahir di tahun 1996 ini mencontohkan, ada salah satu daerah yang telah menjalankan TTG di Sumba Barat Daya, NTT.

Hasilnya, TTG itu membantu dukungan pengembangan ekonomi rakyat, optimasi sumber daya lokal, serta sosial bisnis kopi yang tidak hanya sebagai kegiatan perkebunan, tetapi sebagai elemen ekonomi daerah.

“Hal itu mengingat NTT merupakan daerah yang mempunyai sumber daya terbatas,” ujar Bambang.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, peningkatan yang dihasilkan melalui sentuhan TTG telah menghasilkan kopi yang bermutu tinggi dan jangkauan pemasarannya lebih luas.

Hasil yang didapat di Sumba cukup jelas, seperti telah ada satu paten terkait kopi yang telah didaftarkan, empat UMKM telah dibina, 17 kader TTG, dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda) lewat APBD, CSR dari BI dan BRI.

“Produksi kopi Sumba juga naik sebesar 80 persen, dengan kenaikan jumlah produksi yang semula 8 kilogram (kg) menjadi 30 kg per bulan, dan koperasi yang dibina sudah mendapat bantuan.

Akhirnya kopi Sumba dapat ikut serta berkompetisi dan bersaing dalam kopi nasional, yang dinilai mungkin bisa meningkatkan branding ke tingkat internasional,” jelas Bambang.

Bambang menambahkan, dengan banyaknya varian kopi di Indonesia, seperti kopi Toraja, kopi Gayo, kopi luwak, kopi Sumatera, dan kopi Jawa, seharusnya sudah mulai memikirkan menu minuman khas kopi dari Indonesia.

“Seperti dibuat es kopi atau lainnya yang bisa mengangkat nama Indonesia di kancah internasional,” tutup Bambang.