Perluas Pasar Ekspor, Indonesia Perlu Standar Baku Kopi Premium

Penulis: Dini Hariyanti

0
123
Perkebunan Kopi Gayo menghadapi masalah produktivitas lahan, yakni hanya menghasilkan sekitar 750 kilogram kopi per hektar. Jauh di bawah perkebunan kopi di Amerika Tengah dan Vietnam yang sudah mencapai 1 ton.

“Varietas kopi mana yang mau diangkat, dan kenapa. Ini harus hati-hati dan argumennya harus kuat,” ujar Andy Ruswar.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus mendorong peningkatan nilai tambah kopi dari sekadar komoditas menjadi bagian dari gaya hidup. Tak hanya memenuhi kebutuhan konsumen lokal, distribusi ke luar negeri juga dipacu.

Andy Ruswar selaku Kasubdit Pasar Segmen Bisnis dan Pemerintah Deputi Pemasaran Bekraf mengatakan, kopi yang diekspor haruslah produk premium. Tapi, bukan premium dari sisi cita rasa yang sesuai dengan kesukaan konsumen saja.

“Untuk menentukan kopi premium itu yang seperti apa itu butuh bicara lebih jauh. Varietas kopi mana yang mau diangkat, dan kenapa. Ini harus hati-hati dan argumennya harus kuat,” ucapnya kepada Katadata.co.id, di Jakarta, Kamis (22/11).

Andy mengutarakan, beberapa aspek yang menjadi penilaian suatu varian kopi tergolong premium atau tidak ialah aroma, cita rasa, dan aftertaste. Poin lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah kualitas sepanjang proses pengolahan kopi.

Negara tujuan ekspor kopi Indonesia yang utama adalah Amerika Serikat (AS). Bekraf mengaku bahwa pemerintah hendak mendalami pasar lain yang tak kalah potensial, seperti Swiss, Perancis, dan Kanada.

“Masing-masing negara kemungkinan akan menginginkan kopi premium yang berbeda-beda. Yang pasti, masyarakat Eropa itu termasuk potensial karena budaya minum kopi di sana terutama coffee morning,” ujar Andy.

Sementara itu, Pendiri Jaringan Warkop Nusantara Ulil Indraswara sempat menuturkan agar semakin banyak masyarakat menjadi penikmat minuman seduh kopi, warung kopi (warkop) jangan sekadar berjualan melainkan bersosialisasi pula.

Aktivitas sosialisasi yang dimaksud melalui interaksi barista dengan konsumen. Tidak hanya menyajikan minuman tetapi juga menceritakan berbagai hal dalam rantai produksi dan distribusi biji kopi.

“Jualan kopi itu sebetulnya jualan cerita. Mungkin sekarang orang lebih banyak terjebak hanya fokus pada jualan konten saja. Padahal sebetulnya kopi ini budaya, ini kekayaan kita. Unsur budaya itu yang harus kita cari,” ujar Ulil.