Tumpang Sari Kopi dan Jahe Menguntungkan

Penulis: Redaksi WE Online
Editor: Annisa Nurfitriyani

0
175

Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon terkenal sebagai kawasan perkebunan dan hortikultura potensial. Wilayahnya sejuk dan merupakan sentra Kopi Gayo. Selain kopi, daerah ini prospektif untuk pengembangan jahe. Masyarakat Gayo mengenal jahe dengan sebutan bing.

Racikan secangkir kopi jahe khas Tanah Rencong tidak perlu diragukan lagi kenikmatan dan khasiatnya. Kedua tanaman ini akrab di kebun. Penanaman jahe di sela – sela pohon kopi memberikan keuntungan tambahan, tidak hanya kepada tanaman kopi, juga kepada petani kopi itu sendiri.

“Saya sudah bertahun-tahun melakukan penanaman jahe di sela-sela tanaman kopi. Sebenarnya bukan hanya jahe saja kami tanam, juga kunyit. Mungkin karena itulah Kopi Gayo yang kami tanam punya cita rasa yang khas dan unik, sehingga menjadi kopi nomor satu di dunia,” ujar Juli, salah seorang petani.

Pertanaman bersama jahe dan kopi tidak mengganggu produktivitas.

“Memang tanaman jahe dan kopi tidak saling mengganggu bahkan tanaman jahe menggemburkan tanah di sekitar pertanaman kopi, jadi tak ada masalah,” ujar, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kab Aceh Tengah, Thamrin.

Salah satu tantangan yang dihadapi petani ketika menanam bersama kopi dengan jahe adalah pemasaran yang belum kontinyu dan masih terbatas untuk kebutuhan pasar lokal Takengon.

“Pada 2018 lalu sudah ada toko atau pedagang pengumpul di daerah ini yang mematok harga jahe segar berkisar Rp 5 -6 ribu per kg di tingkat petani. Tahun ini tidak lagi berjalan karena kesulitan finansial,” papar Kasi Pengembangan Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Aceh, Dedi.

Tantangan yang kedua, lanjut Dedi, dikarenakan belum adanya hilirisasi produk turunan jahe di Takengon, misalnya jahe instan, kopi jahe instan dan lainnya, sehingga jahe belum menjadi komoditas primadona di Aceh Tengah.