Penelitian Ungkap Pengaruh Kafein pada Kopi Bagi Susunan Otak

Editor : Edy Pramana
Reporter : Marieska Harya Virdhani

0
44

Kopi mengandung kafein yang bisa meningkatkan seseorang menjadi lebih awas dan fokus. Kafein adalah zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Tidak hanya dalam secangkir kopi, tapi juga ada di dalam minuman energi dan kola. Sebuah penelitian terbaru mengungkap pengaruh kafein terhadap otak seseorang.

Sebuah penelitian terbaru dari para peneliti di Universitas Basel menunjukkan bahwa konsumsi kafein secara teratur dapat mengubah materi otak. Namun, efeknya mungkin tampak sementara.

Kafein, terutama jika diminum pada malam hari, dapat mengganggu pola tidur. Kurang tidur, pada gilirannya, dapat memengaruhi materi otak, seperti yang dibuktikan oleh penelitian sebelumnya.
Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Christian Cajochen dan dr. Carolin Reichert dari Universitas Basel menyelidiki apakah kurang tidur karena kafein adalah penyebab yang memengaruhi struktur otak.

Temuan menunjukkan bahwa konsumsi kafein tidak mengakibatkan kualitas tidur yang buruk. Di sisi lain, peneliti mengamati perubahan materi abu-abu pada otak. Studi tersebut dilaporkan dalam jurnal Cerebral Cortex pada 15 Februari.

Dilansir dari Science Times, Kamis (18/2), menurut Pusat Informasi Bioteknologi Nasional, otak manusia terbuat dari materi putih dan abu-abu. Tapi, materi abu-abu memainkan peran penting dalam memungkinkan seseorang berfungsi normal setiap hari. Tidak hanya membantu memproses informasi, tetapi juga memproses sinyal yang dihasilkan oleh organ sensorik kita. Materi abu-abu merupakan lapisan terluar otak yang mendapatkan warna abu-abu dari konsentrasi tinggi badan sel saraf.

Studi tersebut melibatkan 20 partisipan muda sehat yang secara teratur mengonsumsi kopi setiap hari. Peserta diberi tablet untuk dua periode 10 hari (tablet kafein atau plasebo) dan diminta untuk menahan diri dari mengonsumsi minuman kafein lainnya selama waktu ini.

Peneliti menganalisis materi abu-abu partisipan melalui pemindaian otak. Tim juga menyelidiki kualitas tidur di laboratorium tidur melalui aktivitas listrik yang direkam di otak.

Data menunjukkan bahwa kedalaman tidur peserta sama saja kualitasnya. Terlepas dari apakah mereka mengonsumsi kafein atau kapsul plasebo. Tetapi melihat perbedaan yang signifikan pada materi abu-abu otak tergantung pada apakah partisipan menerima kafein atau plasebo. Setelah 10 hari tidak mengonsumsi kafein karena kapsul plasebo, volume materi abu-abu pada partisipan jauh lebih besar daripada periode waktu yang sama dengan kapsul kafein.

“Hasil penelitian kami tidak selalu berarti bahwa konsumsi kafein berdampak negatif pada otak. Namun, konsumsi kafein setiap hari memengaruhi perangkat keras kognitif kita, tapi memang perlu penelitian lebih lanjut,” jelas peneliti.

Para peneliti mencatat bahwa perubahan morfologi otak tampaknya bersifat sementara ketika membandingkan pengurangan volume materi abu-abu pada peminum kopi yang rajin dan setelah berhenti minum kafein. Perbedaan itu lebih mencolok pada lobus temporal medial kanan, termasuk hipokampus otak, wilayah otak yang vital untuk konsolidasi memori. Kesimpulannya, perubahan itu hanya bersifat sementara dan tidak berdampak negatif. Dan kafein juga tidak begitu terlalu memengaruhi kualitas tidur seseorang.