Kenapa Seseorang Suka Kopi dan Yang Lain Suka Teh?

Oleh: Yandri Daniel Damaledo

0
308

Ada sistem dalam tubuh yang memengaruhi seseorang untuk menyukai kopi atau teh, yang disebut dengan reseptor pahit.

Setiap orang punya cara berbeda untuk memulai hari. Secangkir kopi atau seduhan teh dengan beberapa makanan ringan untuk mengisi perut. Kabar pagi juga ikut menemani agar tidak ketinggalan berita terkini.

Kopi atau teh, adalah preferensi minuman yang berbeda buat tiap orang. Kedunya memiliki aroma dan cita rasa khas, dan memiliki ratusan varian pilihan, jaga-jaga kalau jenuh suatu hari.

Beberapa orang memilih kopi, si hitam yang kini laku dijual dimana-mana di Indonesia. Lagi pula, Indonesia menghasilkan kopi terbaik yang terkenal seantero dunia. Sebut saja Kopi Gayo, Kopi Luwak, Kopi Mandailing dan kopi-kopi lainnya.

Menurut laman Indonesia Investment, kopi jadi kesukaan banyak orang. Pada tahun 2017, konsumsi kopi di Indonesia mencapai 2,7 juta ton, terus meningkat selama 1 dekade terakhir.

Meskipun kedai kopi latah dibuka dimana-mana, penggemar teh masih terus menikmati tehnya. Teh juga merupakan komoditi besar di Indonesia dan termasuk minuman favorit rakyat Indonesia.

BMC Geonomic menyebutkan, sebagian orang suka minum teh, dan sebagian lagi lebih memilih minum kopi. Suka minum teh ataupun kopi, ternyata sistem dalam tubuh manusia punya andil didalamnya.

Sistem tersebut disebut dengan reseptor pahit. Sebuah penelitian mengenai reseptor pahit yang ada dalam gen manusia ini menjelaskan kenapa sebagian orang menyukai kopi sedangkan yang lain menyukai kopi.

Kopi dan teh memiliki rasa pahit karena kandungan kafein. Selain itu, dalang rasa pahit pada makanan lainnya adalah quinine dan propylthiouracil (PROP).

Melansir dari Nature.com, Quinine dan PROP banyak terkandung dalam teh, meskipun teh juga memiliki kadar kafein namun tidak sebanyak kopi.

Respons pahit pada manusia mampu mengecap ketiga zat tersebut. Namun, kecenderungan terhadap ketiga zat tersebut berbeda-beda masing-masing orang.

Seseorang yang memiliki reseptor pahit yang peka terhadap kafein cenderung menjadi peminum kopi berat, yang artinya meminum lebih dari 3 cangkir kopi sehari.

Hal itu disebabkan karena kafein bertanggung jawab tidak hanya atas rasa pahit, tapi juga tekstur dan aroma kopi. Seseorang yang peka terhadap kaefin akan menganggap kopi lebih ‘berasa’ dan nikmat.

Sebaliknya, seseorang dengan reseptor pahit lebih peka terhadap quinine atau PROP akan cenderung lebih memilih teh daripada kopi.

Namun, disamping memberi rasa pahit, kafein berkhasiat menyegarkan tubuh. Jika si pemilik reseptor yang lebih peka terhadap quinine atau PROP mebutuhkan asupan kafein, mereka akan cenderung minum teh daripada kopi.

Hal tersebut bukan berarti preferensi minuman seseorang hanya ditentukan oleh gen. Reseptor rasa manusia berubah setiap tujuh sekali, yang artinya penyuka teh bisa saja beralih ke kopi dan sebaliknya.

Manusia juga tetap bisa menikmati rasa pahit dari semua makanan dan minuman terlepas dari kepemilikan gene reseptor pahit tersebut.