Bank Indonesia Sumsel Kembangkan Klaster Kopi

Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Selatan mengembangkan kopi sebagai komoditas unggulan dari daerah itu lewat skema klaster kopi.

0
71
Kepala Perwakilan BI Sumsel Yunita Resmi Sari (tengah) memberikan penjelasan kepada wartawan. - Bisnis/Dinda Wulandari

Kepala Perwakilan BI Sumsel, Yunita Resmi Sari, mengatakan klaster kopi yang dikembangkan pihaknya tak hanya fokus di bagian peningkatan produksi dan mutu melainkan juga terkait rantai nilai komoditas tersebut.

“Sehingga nantinya kopi Sumsel ini bisa memenuhi standar internasional karena orientasi pasar kopi adalah ekspor,” katanya di sela capacity building wartawan ekonomi dan bisnis Sumsel di Bali, Sabtu (22/6/2019).

Yunita menjelaskan pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan empat kabupaten penghasil kopi di Sumsel, seperti Kabupaten Pagar Alam, Empat Lawang, Muara Enim dan Lahat.

Dia menjelaskan bank sentral memang memiliki program pengembangan sektor ril melalui pendekatan klaster. Meskipun pola klaster ditujukan untuk komoditas yang bersinggungan dengan inflasi, namun program juga juga dilakukan pada komoditas yang berorientasi ekspor atau komoditas unggulan wilayah.

Dalam implementasinya, pendekatan klaster yang merupakan upaya untuk mengelompokkan industri inti yang saling berhubungan, baik industri pendukung dan terkait, jasa penunjang, infrastruktur ekonomi, penelitian, pelatihan, pendidikan, infrastruktur informasi, teknologi, sumber daya alam, serta lembaga terkait.

Sebelumnya, BI Sumsel telah mendirikan Rumah Kopi Sumsel di Kawasan Benteng Kuto Besak atau BKB Palembang sebagai upaya bank sentral mendukung pengembangan kopi asal provinsi itu.

Yunita mengatakan salah satu bentuk dukungan di sektor hilir adalah menyediakan tempat penjualan kopi berkonsep kedai atau coffee shop.

“Di RKS (Rumah Kopi Sumsel), nantinya tidak hanya melayani pembelian kopi di tingkat lokal saja. Tapi juga penjualannya akan merambah hingga mancanegara. Inilah yang disebut pengembangan sektor hulu dan hilir,” katanya.

Yunita mengemukakan kopi yang diseduh di RKS semuanya berasal dari kebun percontohan dikelola petani mitra binaan BI Sumsel.

Sementara, di sektor hulu, pihaknya telah memiliki kebun demplot atau percontohan di 5 kabupaten/kota yang menghasilkan kopi.

“Di kebun itu, kami mengembangkan teknik pertanian misalnya mengganti robusta menjadi arabika dan berbagai teknik lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas tanaman kopi petani Sumsel,” katanya.