Tantangan Warkop Garap Jasa Sangrai

Penulis: Dini Hariyanti

0
303

“Secara perhitungan bisnis, mungkin iya bahwa pertimbangan (tidak sangrai sendiri) karena profitnya lebih besar di penyeduhan”.

Minuman seduh berbasis biji kopi tengah naik daun. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong perubahan paradigma terhadap produk kuliner ini, yakni dari komoditas menjadi gaya hidup.

Seiring pergeseran paradigma tersebut tak heran semakin banyak bermunculan kedai kopi. Tapi tak semua coffee shop alias warung kopi memiliki lini bisnis jasa lengkap mencakup proses sangrai (roasting) hingga penyeduhan (brewing).

Salah satu pemilik coffee shop dan jasa sangrai membenarkan hal itu, tidak semua warung kopi (warkop) melakukan sangrai biji kopi sendiri. Tak hanya soal kemampuan menyangrai, besarnya investasi untuk membeli mesin sangrai juga menjadi tantangan bagi pebisnis di bidang ini.

“Tapi akhir-akhir ini, teman-teman mulai mencicil untuk membeli (mesin sangrai) sendiri. Secara perhitungan bisnis, mungkin iya bahwa pertimbangan (tidak sangrai sendiri) karena profitnya lebih besar di penyeduhan,” katanya kepada Katadata.co.id

Dia menjelaskan, cuan dari jasa roasting lebih tipis dibandingkan dengan brewing terpengaruh volume kopi yang dijual. Kemasan minimal untuk sangrai 250 gram, sedangkan penyeduhan cuma 15 gram – 20 gram per cangkir.

“Seperti jualan rokok saja. Eceran dengan kemasan maka secara profit lebih menguntungkan yang eceran,” tuturnya.

Sementara itu, pemilik Coffee Shop lain juga mengatakan hal yg sama, keuntungan penyeduhan lebih besar daripada sangrai. Biaya bahan baku untuk secangkir kopi americano hanya Rp 4.000 – Rp 5.000 tetapi bisa dijual hingga Rp 20.000 bahkan lebih per cangkir.

“Memang margin dari sangrai tidak terlalu banyak. Tapi seiring banyaknya bisnis kedai kopi, fokus kami justru menyuplai kebutuhan biji kopi untuk para coffee shop itu,” katanya saat ditemui Katadata.co.id

Soal investasi mesin, memang menjadi tantangan mengingat harganya tidak murah. Harga mesin sangrai lokal berkapasitas kecil, atau kurang dari 3 kg, yang pernah dibelinya sekitar Rp 150 juta.

Ia menjelaskan, untuk sekali proses sangrai mesinnya dapat menampung 3 kg – 4 kg per satu jenis biji kopi. Di kedainya, seitar 3 kg kopi habis dalam waktu dua hingga tiga hari. Untuk jenis biji kopi yang sama, cita rasa hasil sangrai oleh satu roastery dengan yang lain bisa berbeda.

“Sesama kopi toraja saja perlakuannya dalam sangrai berbeda-beda. Banyak faktor, seperti tergantung cuaca, kadar airnya, ketinggian tanah, dan pengolahan pascapanen oleh petani. Yang utama (bagi konsumen) adalah kopi itu memiliki karakter,” kata dia.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo sempat mengutarakan, pihaknya menginginkan nilai tambah untuk kopi nusantara. Dengan kata lain, biji kopi tidak hanya menjadi komoditas.

“Bekraf berharap, kopi Indonesia bukan hanya sebagai komoditas tetapi bisa memiliki nilai tambah dengan disajikan di kedai atau kafe dengan brand Indonesia,” ujarnya.

Industri hilir kopi sejatinya tidak hanya mencakup warkop atau kafe tetapi juga pengembangan pemasaran kopi siap konsumsi maupun bubuk, usaha desain interior kedai dan kafe, pembuatan kemasan berikut desain, pembuatan peralatan penyajian, dan pengolahan minuman kopi.

Minuman seduh berbasis biji kopi tengah naik daun. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong perubahan paradigma terhadap produk kuliner ini, yakni dari komoditas menjadi gaya hidup.

Seiring pergeseran paradigma tersebut tak heran semakin banyak bermunculan kedai kopi. Tapi tak semua coffee shop alias warung kopi memiliki lini bisnis jasa lengkap mencakup proses sangrai (roasting) hingga penyeduhan (brewing).

Salah satu pemilik coffee shop dan jasa sangrai membenarkan hal itu, tidak semua warung kopi (warkop) melakukan sangrai biji kopi sendiri. Tak hanya soal kemampuan menyangrai, besarnya investasi untuk membeli mesin sangrai juga menjadi tantangan bagi pebisnis di bidang ini.

“Tapi akhir-akhir ini, teman-teman mulai mencicil untuk membeli (mesin sangrai) sendiri. Secara perhitungan bisnis, mungkin iya bahwa pertimbangan (tidak sangrai sendiri) karena profitnya lebih besar di penyeduhan,” katanya kepada Katadata.co.id

Dia menjelaskan, cuan dari jasa roasting lebih tipis dibandingkan dengan brewing terpengaruh volume kopi yang dijual. Kemasan minimal untuk sangrai 250 gram, sedangkan penyeduhan cuma 15 gram – 20 gram per cangkir.

“Seperti jualan rokok saja. Eceran dengan kemasan maka secara profit lebih menguntungkan yang eceran,” tuturnya.

Sementara itu, pemilik Coffee Shop lain juga mengatakan hal yg sama, keuntungan penyeduhan lebih besar daripada sangrai. Biaya bahan baku untuk secangkir kopi americano hanya Rp 4.000 – Rp 5.000 tetapi bisa dijual hingga Rp 20.000 bahkan lebih per cangkir.

“Memang margin dari sangrai tidak terlalu banyak. Tapi seiring banyaknya bisnis kedai kopi, fokus kami justru menyuplai kebutuhan biji kopi untuk para coffee shop itu,” katanya saat ditemui Katadata.co.id

Soal investasi mesin, memang menjadi tantangan mengingat harganya tidak murah. Harga mesin sangrai lokal berkapasitas kecil, atau kurang dari 3 kg, yang pernah dibelinya sekitar Rp 150 juta.

Ia menjelaskan, untuk sekali proses sangrai mesinnya dapat menampung 3 kg – 4 kg per satu jenis biji kopi. Di kedainya, seitar 3 kg kopi habis dalam waktu dua hingga tiga hari. Untuk jenis biji kopi yang sama, cita rasa hasil sangrai oleh satu roastery dengan yang lain bisa berbeda.

“Sesama kopi toraja saja perlakuannya dalam sangrai berbeda-beda. Banyak faktor, seperti tergantung cuaca, kadar airnya, ketinggian tanah, dan pengolahan pascapanen oleh petani. Yang utama (bagi konsumen) adalah kopi itu memiliki karakter,” kata dia.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo sempat mengutarakan, pihaknya menginginkan nilai tambah untuk kopi nusantara. Dengan kata lain, biji kopi tidak hanya menjadi komoditas.

“Bekraf berharap, kopi Indonesia bukan hanya sebagai komoditas tetapi bisa memiliki nilai tambah dengan disajikan di kedai atau kafe dengan brand Indonesia,” ujarnya.

Industri hilir kopi sejatinya tidak hanya mencakup warkop atau kafe tetapi juga pengembangan pemasaran kopi siap konsumsi maupun bubuk, usaha desain interior kedai dan kafe, pembuatan kemasan berikut desain, pembuatan peralatan penyajian, dan pengolahan minuman kopi.