Di Pameran Kopi Terbesar di Kanada, Kopi Indonesia Jadi Primadona

0
173

Antrean pengunjung terlihat di paviliun Indonesia pada pameran kopi dan teh terbesar di Kanada, the Canadian Coffee and Tea Show 2018 di kota Toronto. Beberapa mengantri untuk mencoba secangkir kopi khas Sumatera, sedangkan yang lainnya ingin mencoba kopi khas Sulawesi dan Jawa.

“Saya suka, rasanya unik,” ungkap salah satu pengunjung sambil menunjukkan kopi Toraja yang sedang diminumnya.

Beberapa pengunjung lainnya tampak serius bertanya mengenai karakter dan kualitas dari masing-masing jenis kopi yang dipamerkan seperti kopi Mandailing, Gayo, Java Ijen, Garut, Flores, Bali, Lintong dan lainnya.

Partisipasi Indonesia pada pameran yang berlangsung di Toronto Congress Centre tanggal 23-24 September 2018 tersebut merupakan yang ketiga sejak keikutsertaan pertama pada tahun 2016.

Paviliun Indonesia

Pada kesempatan kali ini, paviliun Indonesia diwakili oleh Caldera Coffee, Red Spatula Coffee & Roastery, Nusa Coffee, dan Kopiku yang menawarkan berbagai jenis kopi khas Indonesia, termasuk kopi luwak. Disamping itu, terdapat pula produk insulated paper cup yang ditawarkan oleh JS Tunggal Group.

Adapun tujuan dari keikutsertaan Indonesia pada pameran tersebut yaitu untuk melakukan penetrasi pasar kopi di Kanada sekaligus agar keragaman kopi Indonesia lebih dikenal.

“Harapannya kopi Indonesia akan semakin banyak dikonsumsi di Kanada,” ungkap Kepala Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Vancouver, Rafika Arfani yang turut memantau jalannya pameran.

Adapun jumlah pengunjung paviliun Indonesia tahun ini diakui lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan oleh Konsul Ekonomi KJRI Toronto, Nancy Kusbayanti yang dua tahun terakhir turut mendampingi peserta Indonesia.

“Hal ini menunjukkan masyarakat Kanada sudah semakin mengenal dan menyukai kopi Indonesia,” lanjutnya.

“Keunikan dan kualitas kopi Indonesia kini banyak dikenal, tinggal bagaimana kita menampilkannya sesuai dengan kultur dan selera konsumen,” tambah Ivan, professional barista yang didatangkan langsung dari Bali oleh Red Spatula Coffee & Roastery.

Saat ini banyak gerai-gerai kopi besar di Kanada mulai mempopulerkan jenis kopi Indonesia, salah satunya kopi Mandailing. Selain itu, kopi luwak juga dapat dijumpai pada beberapa kedai kopi premium.

Meskipun bukan negara penghasil kopi, 71 persen penduduk Kanada yang berjumlah 35 juta jiwa merupakan penikmat kopi.  Rata-rata satu orang dewasa di Kanada mengkonsumsi 3 cangkir kopi per hari.

“Ini menunjukkan betapa besar pasar bagi komoditas kopi di Kanada,” ujar Konsul Jenderal RI Toronto, Leonard F. Hutabarat Ph.D. yang hadir di hari pertama pameran.

Paviliun Indonesia

Lebih lanjut, Konjen Leonard juga meyakini bahwa Indonesia mampu bersaing merebut minat konsumen kopi di Kanada yang saat ini didominasi oleh generasi milenial yang juga semakin selektif dalam memilih jenis kopi.

“Kuncinya adalah bagaimana pengusaha mengemas produknya dengan aspek moral dan filosofis, atau cerita yang otentik mengenai asal-usul biji kopi yang ditawarkan, disamping label organik dan fair trade,” jelasnya.

Pada tahun 2017, nilai ekspor kopi Indonesia ke Kanada mencapai US$ 34,5 juta atau mengalami peningkatan sebesar 6,2% jika dibandingkan tahun 2016 sebesar US$ 32,5 juta.

Sementara itu, nilai impor kopi Kanada di tahun 2017 mencapai US$ 1,29 miliar atau naik 8,10% dibanding tahun 2016 sebesar US$ 1,19 miliar. Sebagian besar impor kopi Kanada dipasok dari Amerika Serikat sebesar US$ 429 juta; Kolombia US$ 232 juta; Brasil US$ 145 juta; dan Guatemala US$ 96,70 juta.

Selain kopi, Paviliun Indonesia juga turut menawarkan produk paper cup hasil inovasi anak negeri. Bapak Jonathan Tunggal dari JS Tunggal Group, Inc. sebagai distributor menuturkan bahwa inovasi insulated paper cup yang menjadikan gelas kertas lebih tahan panas ini telah mengantongi hak paten dan saat ini cukup banyak diminati oleh café-café kecil di Kanada yang ingin tampil beda.

Kehadiran paviliun Indonesia di Canadian Coffee and Tea Show 2018 berkat kerja sama antara Konsulat Jenderal RI di Toronto dengan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Vancouver. Pameran kopi tersebut sendiri diikuti oleh lebih dari 200 exhibitors.